MOROWALI UTARA – Masyarakat Desa Saembah Walati, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah, hingga kini masih mengalami krisis air bersih. Kondisi ini dipicu oleh kerusakan sarana penyediaan air bersih akibat diterjang banjir Sungai Saemba pada Februari 2026 lalu.
Banjir yang disebabkan oleh tingginya curah hujan kala itu memutus pipa saluran air utama. Tak hanya itu, bak intake atau penampung air bersih juga mengalami keretakan parah dan dipenuhi material lumpur, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Akibat kerusakan infrastruktur tersebut, warga Saembah Walati kini kesulitan memperoleh pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepala Dusun Saembah Walati, Marthen, mengungkapkan bahwa sejak fasilitas air bersih tersebut rusak, masyarakat terpaksa mengandalkan air sumur galian dan air hujan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak.
Namun, situasi kini semakin mendesak seiring dengan datangnya perubahan cuaca.
”Sekarang sudah mulai memasuki musim kemarau. Sumur milik masyarakat mulai mengering dan kondisi ini mulai mengkhawatirkan,” ujar Marthen kepada media ini, Kamis (25/6/2026).
Menurut Marthen, hingga saat ini belum ada tindakan perbaikan nyata terhadap pipa maupun bak penampung air yang rusak akibat banjir empat bulan lalu itu.
Mewakili warga, ia berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dapat segera turun tangan mengambil langkah konkret.
Masyarakat sangat mendambakan solusi cepat agar jaringan distribusi air bersih di desa mereka bisa kembali normal dan kebutuhan mendasar warga dapat terpenuhi. (San)

