77 tahun sudah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Merdeka dari kuasa penjajahan kolonialisme dan imperialisme. Soekarno-Hatta menyatakan Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 atas nama seluruh rakyat. Euforia kemerdekaan menggegap hingga pelosok nusantara.

Suara kebebasan menggema setelah sekian lama hidup dalam belenggu keterjajahan. Merdeka menetukan nasib sendiri sebagai sebuah bangsa. Bebas bergaul dengan bangsa-bangsa lain sebagai negara yang berdaulat. Hidup bebas di alam merdeka. Merdeka yang berarti bebas mandiri, otonom dan berdiri di atas kaki sendiri.
Makna Kemerdekaan
Makna kemerdekaan mesti diinterpretasikan kembali. Sebab perasaan merdeka bagai hilang dari lubuk hati kebangsaan kita. Negeri ini bergantung pada utang luar negeri yang entah sampai kapan terbayar lunas. Ekonomi dunia mengalami masalah. Krisis pangan dan energi menghadang. Harga-harga membubung tinggi. Pertumbuhan ekonomi nasional belum pada posisi yang baik. Lapangan pekerjaan begitu sulit dan semakin sempit. Angka pengangguran terdidik kian meningkat. Banyak usaha dan perusahaan belum sempat siuman, sebagian telah gulung tikar terhempas badai krisis.
Tindak kekerasan dan aksi premanisme masih menghantui sebagian masyarakat. Ketakutan dan rasa merdeka terampas di tanah sendiri. Untuk hidup dan bekerja tidak cukup aman. Kebebasan berserikat dan berkumpul realitasnya tidak sepenuhnya terjamin meski dilindungi dalam konstitusi. Perbuatan melawan hukum dipertontonkan dengan kasat mata. Bahkan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Kasus Irjen Pol Ferdy Sambo dalam kematian Brigadir Josua bukti aktualnya. Aparat negara yang seharusnya menegakkan supremasi hukum serta menjadi pelindung dan pengayom justru diduga kuat sebagai aktor utama dalam kasus pembunuhan berencana dengan melibatkan puluhan koleganya yang terseret masalah etik dan pidana.
Kemiskinan yang masih kronis akibat krisis ekonomi yang terdampak Pandemi Covid-19 dalam 2 tahun belakangan. Menambah daftar panjang persoalan yang sulit terurai. Belum lagi dengan bencana alam berupa banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan yang harus dengan segera diatasi. Banyak warga kehilangan rumah, tempat tinggal bahkan sanak saudaranya. Mereka terpaksa hidup seadanya di bawah tenda pengungsian.
Krisis semesta menjadikan kita seolah terbelenggu secara psiko-sosial. Terdampak oleh permasalahan global yang belum kunjung usai. Membawa beban traumatik dalam benak dan hati banyak orang. Pandemi Covid-19 belum berakhir. Krisis mendera banyak bangsa. Tekanan hidup masih dirasakan kebanyakan orang.
Merdeka itu Pilihan
Hidup merdeka merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin konstitusi dan dilindungi negara. Hidup merdeka juga adalah pilihan bagi mereka yang sadar dan cerdas. Baik secara intelektualitas (Intelligence Quetiont), emosional (Emotional Quetiont), dan spiritual (Spiritual Quetiont).
Di masa pandemi ini, ada beberapa usaha yang tetap tumbuh dan berkembang. Mereka memanfaatkan momentum dengan akselerasi bisnis dalam digitalisasi atau online. Demikian pula bagi mereka yang mengalihkan sebagian kegiatannya secara daring. Sektor distribusi barang dalam ekspedisi dan layanan jasa titipan justru meningkat. Digitalisasi dan konektifitas secara online adalah sebuah keniscayaan. Berubah atau punah. Demikian pilihan sadar agar dapat berbenah, bertumbuh dan tidak tergilas arus perubahan.
Hidup merdeka adalah kesadaran yang utuh akan eksistensi diri terhadap lingkungan sosialnya. Hidup merdeka juga bermakna berpijak pada potensi kekuatan internal seraya terus berdaptasi dengan lingkungan sekitar yang kian berubah drastis.
Hidup merdeka bukan berarti tanpa masalah dan tantangan. Jalan kehidupan tidak selalu mulus dan lancar. Ada kelokan, turunan dan tanjakan, curam dan landai. Tapi kita tetap mesti terus berjalan, apapun kondisi jalannya. Yang terpenting bukan seberapa besar masalah dan tantangan di depan mata, namun seberapa besar Kemauan (Motivasi) dan Daya Tahan (Adversity) kita dalam menghadapi dan menjalaninya. Manusia ditakdirkan sebagai makhluk dengan kemapuan beradaptasi. Dalam diri kita ada “Roh Keberhasilan” yang lebih besar dari setiap masalah dan tantangan kehidupan.
Hidup merdeka adalah kesadaran diri akan potensi Ilahi yang mesti dipergunakan bagi kemaslahatan bersama. Dengan menjadi teladan dalam berbuat baik. Merdeka dari kuk perhambaan. Hamba uang, jabatan, dan keserakahan. Sebab kemerdekaan itu bukanlah kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan untuk melayani dengan kasih (Gal 5:13).
Merdeka….Merdeka…Merdeka…
