Bupati Delis: Apkasi Sambut Gembira Tawaran Kerjasama Sister’s City dari Kota Shandong, China 

JAKARTA – Bupati Morowali Utara Delis J. Hehi menyambut gembira kunjungan Wali Kota Shandong, China, ke Indonesia, untuk menawarkan kerja sama antar kota (sister’s city) dengan kabupaten dan kota-kota di Indonesia.

“Kami menyambut baik kunjungan delegasi dari Kota Shandong ke Indonesia, semoga menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua kota bahkan kedua negara di masa mendatang,” kata Delis atas nama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) saat menerima audiensi delegasi Pemerintah Kota Shandong di Jakarta, Rabu. (6/3)

Bupati Morut Delis J. Hehi yang juga Ketua Bidang Pertambangan Apkasi itu dipercaya Apkasi untuk mewakili organisasi pemerintah kabupaten se-Indonesia tersebut untuk berdialog dengan delegasi Kota Shandong yang ingin menjalin kerja sama yang saling menguntung dalam berbagai bidang dengan pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia.

Delis menjelaskan kepada delegasi Kota Shandong yang dipimpin Wakil Walikota Dezhou Chen Haiming itu bahwa Morowali Utara merupakan kabupaten dengan deposit nikel terbesar di dunia.

Saat ini, katanya, lebih dari 10 investor China menanam modal di bidang pertambangan dan industri hilir nikel di Kabupaten Morowali Utara. Investor-investor itu membuka puluhan ribu kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia, namun tidak sedikit pula tenaga kerja asing asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Sejumlah kabupaten di Indonesia, melalui Apkasi, telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah China, untuk mengirim generasi muda Indonesia belajar di China, dalam berbagai bidang keterampilan. Setelah tamat nanti, mereka akan kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan-perusahaan investasi China di Indonesia,” ujar Delis lagi.

Dalam suatu kesempatan di Palu, Bupati Delis mengemukakan bahwa di Morut saat ini ada investor China sedang membangun mega proyek smelter nikel yang diproyeksikan menjadi smelter terbesar di dunia yang bisa menampung 100.000-an tenaga kerja.

“Beberapa waktu lalu, perusahaan itu (NNI) meminta tenaga penerjemah (translater) China-Indonesia dari Indonesia sebanyak 100 orang, namun kita tidak bisa menyediakannya. Gaji minimum tenaga translater seperti ini rata-rata Rp11 juta/bulan.

Ia berharap, kerja sama Sister’s City antara Apkasi dan pemerintah China ini akan menyediakan lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang trampil di berbagai bidang, termasuk menguasai bahasa Mandarin, sehingga mereka mudah diserap untuk bekerja di perusahaan-perusahaan asal Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia, khususnya Morowali Utara dan Morowali. (RoMa/Ryo) MCDD

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

You cannot copy content of this page