MOROWALI UTARA — Kondisi ekonomi yang belum stabil mulai memukul para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah. Salah satunya dirasakan oleh Suriati, pemilik usaha perbengkelan di Desa Tomata, Kecamatan Mori Atas. Ia mengeluhkan lonjakan harga suku cadang (sparepart) dan oli kendaraan yang memicu penurunan drastis jumlah pelanggan.
Menurut Suriati, kenaikan harga terjadi pada hampir semua jenis pelumas kendaraan, baik oli mesin maupun oli gardan. Kondisi ini otomatis mendongkrak biaya servis kendaraan bermotor dibanding bulan-bulan sebelumnya.
”Bulan lalu, harga oli mesin MPX biasanya Rp65 ribu sudah termasuk ongkos pasang. Sekarang naik menjadi Rp75 ribu. Begitu juga dengan oli gardan, bulan lalu Rp30 ribu, sekarang sudah Rp40 ribu. Makanya bengkel jadi sepi,” kata Suriati kepada media, Rabu (20/05-26).
Ia menjelaskan, melonjaknya harga suku cadang dan pelumas ini memberikan dampak domino yang langsung dirasakan oleh pelaku usaha perbengkelan maupun masyarakat selaku konsumen. Secara umum, harga oli kemasan di pasaran saat ini mengalami kenaikan rata-rata hingga Rp15 ribu per liter.
Kenaikan ini pun dikonfirmasi oleh salah seorang pelanggan yang mengaku terkejut saat harus merogoh kocek lebih dalam untuk perawatan kendaraannya. Untuk sekali penggantian oli mesin dan oli gardan, ia harus membayar hingga Rp140 ribu.
”Sempat saya tanyakan ke pemilik bengkel kenapa biayanya jadi mahal,” ujar konsumen tersebut.
Merespons pertanyaan konsumen, Suriati secara persuasif menjelaskan bahwa modal pembelian barang dan suku cadang dari distributor memang sudah mengalami kenaikan massal dalam beberapa waktu terakhir.
Menghadapi situasi sulit ini, para pelaku usaha kecil di Morowali Utara berharap pemerintah daerah atau pihak terkait dapat turun tangan menjaga stabilitas harga di pasaran. Stabilitas harga dinilai menjadi kunci utama agar daya beli masyarakat kembali normal, sehingga roda aktivitas usaha bengkel kecil dapat kembali bergeliat. YOKSAN

