Komnas HAM Sulteng, Ungkap Catatan ‘Dosa’ PT GNI Morowali Utara

Dedi Askary : Pemerintah Jangan Hanya Sejahterakan Pengusaha dan Satu Negara Tertentu!

PALU, DETAIL73.COM– PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara Provinsi Sulteng dinilai enggan menaati aturan perburuan yang berlaku secara nasional maupun global.

Hal itu dibuktikan dengan terjadinya bentrok yang melibatkan antar pekerja di dalam internal perusahaan.

Jika manajemen PT GNI mengikuti aturan perburuan tentunya peristiwa itu tidak terjadi.

Menurur Kepala Perwakilan Komnas HAM Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Dedi Askary bentrok yang terjadi antara pekerja asing dan Indoenesia menjadi bukti nyata.

Ia menegaskan, ini membuktikan buruknya manajemen buruh atau pekerja yang diterapkan di perusahaan tersebut.

“Saya menilai, manajemen PT GNI itu enggan melaksanakan aturan hukum menyangkut perburuhan sebagaimana yang diatur dalam berbagai instrumen hukum nasional maupun internasional,” tegas Dedi dalam keterangan resminya Rabu (18/1/2023).

Dedi menjelaskan, Komnas HAM Perwakilan Sulteng telah melakukan jejak penelusuran mendalam.

Pihaknya mendapatkan bahwa telah terjadi beberapa insiden kecelakaan kerja di lokasi smelter PT GNI.

Bahkan, kata dia, ketika smelter itu masih dalam tahap pembangunan, terjadi bentrok sesama buruh PT GNI yang menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Hal ini merupakan wujud akumulasi kekecewaan dan ketidakpuasan pekerja terhadap manajemen PT GNI.

“Pihak PT GNI lamban merealisasikan tuntutan buruh atau pekerja dalam serangkaian aksi yang dilakukan sebelumnya,” katanya.

Demikian pula lanjut Dedi, kebakaran di pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel PT GNI di Morowali Utara (Morut), Sulteng yang terjadi pada Kamis 22 Desember 2022 lalu.

Di mana insiden tersebut menewaskan dua pekerja alat berat, sesuatu bukan kecelakaan kerja yang pertama di PT GNI dalam kurun satu tahun terakhir.

Dalam kurun setahun terakhir, katanya, ada tujuh pekerja yang meregang nyawa di wilayah kerja smelter PT GNI, bahkan sejak smelter itu masih dalam tahap pembangunan.

“Tujuh orang pekerja yang meregang nyawa tersebut, terdiri dari dua pekerja bunuh diri, yang keduanya adalah warga negara Cina, dan lima pekerja meninggal dunia karena kecelakaan kerja,” ungkap Dedi.

Berikut daftar Kecelakaan Kerja di PT GNI dalam setahun terakhir :

1. Kecelakaan kerja yang menimpa seorang operator alat berat berinisial HR, 25 tahun, yang ditemukan tertimbun longsor bersama excavator pada Rabu, 10 Juni 2020. Korban dilaporkan sudah tertimbun longsor sejak pukul 20.00 Wita pada 8 Juni 2020.

2. Pada 23 Mei 2022, ditemukan warga negara asing (WNA) asal China berinisial MG (56 tahun), tewas bunuh diri di lokasi PT GNI.

3. Pada 15 Juni 2022, TKA asal China lainnya juga ditemukan tewas bunuh diri dengan menggunakan tali kawat di lokasi PT GNI. WNA berinisial WR, 51 tahun itu ditemukan oleh salah seorang karyawan PT GNI yang akan bekerja di lokasi DP 4 PLTU PT GNI sekitar pukul 02.00 wita dini hari.

4. Pada 24 Juni 2022, kecelakaan kerja yang menewaskan seorang pekerja bernama Yaser. Korban berusia 41 tahun ini terseret longsor setelah mengoperasikan bulldozer tanpa lampu penerangan di tengah malam, hingga masuk ke laut dengan kedalaman 26 meter.

5. Rabu 6 Juli 2022, seorang pekerja PT GNI bernama Ali Farhan, pemuda 21 tahun yang baru bekerja selama tiga pekan meregang nyawa di lokasi kerja (tungku 6 smelter 1). Yang bersangkutan ditemukan tidak bernyawa setelah jatuh di sebelah kontrol tuas mesin hidrolik. Korban diduga tercebur ke area pembuangan slek yang panas.

6. Pada pekan ketiga Desember 2022, dua pekerja operator alat berat bernama Nirwana Selle dan Made Devri meninggal karena terjebak kebakaran akibat ledakan dari tungku smelter 2.

Dedi Askary mengemukakan, peristiwa kecelakan kerja yang menyebabkan meninggalnya buruh PT GNI, menambah catatan buruk dalam dunia kerja Indonesia, karena telah berulang kali terjadi.

Dia menegaskan, di PT GNI sendiri yang beropersi baru sekitar satu tahun, kecelakaan kerja yang menyebabkan korban meninggal dunia hingga bentrok sesama buruh ataubpekerja di internal perusahaan yang berujung kematian.

Ini dapat dipandang satu kelalaian yang disengaja, khususnya dalam hal memberi jaminan keselamatan kerja dan kesehatan kerja buruh di lingkungan kerja PT GNI.

Oleh karena itu, Komnas HAM Perwakilan Sulteng mendesak agar pemerintahan terkait dan PT GNI bertanggung jawab penuh atas insiden kecelakaan kerja yang kembali terulang.

Beberapa kecelakaan kerja yang menimpa buruh di lingkungan kerja PT GNI hingga yang terakhir yang menimpa saudari Nirwana dan I Made Defri akibat dari buruknya penerapan sistem K3.

“Bahkan diduga kuat sistem K3 yang ada di PT GNI tidak layak diaplikasikan dalam industri pertambangan sesuai dengan sektor perusahaan tempat para buruh bekerja,” tandasnya.

Dedi menekankan, atas serangkaian peristiwa di PT GNI itu, maka pemerintah pusat dan daerah harus segera melakukan langkah intervensi yang dipandang cepat dan efektif.

Dimulai dari investigasi mendalam dengan melibatkan berbagai pihak.

“Tidak ada alasan lagi, pemerintah sudah harus melakukan intervensi terhadap PT GNI,” tegas Dedi.

Pemerintah juga, katanya, sudah sepatutnya menempatkan kerja sama pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh investor asing.

Kerja sama dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan segelintir pengusaha atau satu negara tertentu saja.

“Program hilirisasi Sumber Daya Alam wajib dilakukan berdasar pada visi besar bangsa, yakni untuk menciptakan keadilan sosial masyarakat,” pungkasnya.(*/gNews.co.id)

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

You cannot copy content of this page