MORUT – Bupati Morowali Utara, Dr. dr. Delis Julkarson Hehi, MARS, menghadiri puncak perayaan 100 Tahun Injil Tana Wana di Lapangan Desa Lemo, Kecamatan Bungku Utara, Selasa (13/10/2026). Dalam momentum bersejarah tersebut, Delis menegaskan bahwa pembangunan wilayah pedalaman harus selalu berlandaskan nilai kasih, kepedulian, dan pelayanan.
Perayaan satu abad pekabaran Injil yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 ini mengusung tema “Tuntu Mpue Tuwu, Molonde Pasi Mowua ri Tana Wana”, yang berarti Injil Bertumbuh, Berakar, dan Berbuah di Tana Wana.
Hadir pula dalam acara tersebut Ketua TP-PKK Morowali Utara sekaligus Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tengah, Febriyanthi Hongkiriwang, S.Si., Apt., serta jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat setempat.
Pembangunan Pedalaman dan Nilai Kemanusiaan
Dalam sambutannya, Bupati Delis menyampaikan bahwa peringatan 100 Tahun Injil Tana Wana bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan momentum penting untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat komitmen membangun masyarakat pedalaman.
“Momentum 100 tahun ini mengingatkan kita semua bahwa dasar dari segala sesuatu adalah kasih. Kita melayani karena kasih, membangun karena kasih, dan bekerja karena kepedulian kita kepada masyarakat Tana Wana,” tegas Bupati Delis.
Ia meneladani perjuangan misionaris Pdt. Hendrik Perdok yang membawa Injil ke pedalaman pada tahun 1926. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis yang berat, kehadiran Injil meletakkan fondasi penting bagi pendidikan, kesehatan, serta peradaban masyarakat setempat.
Komitmen Infrastruktur, Listrik, dan Kepemilikan Tanah
Bupati Delis mengakui masih ada tantangan infrastruktur di kawasan pedalaman Tana Wana, terutama akses jalan dan jembatan. Meski sempat terkendala efisiensi anggaran, Pemkab Morowali Utara terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan TNI AD untuk mempercepat konektivitas antar-desa di Bungku Utara dan Mamosalato.
Di sektor kelistrikan, Pemkab berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) untuk memperluas akses listrik ke desa-desa pedalaman pada tahun 2027, termasuk Desa Salubiro.
Selain fisik, Bupati Delis mengimbau masyarakat untuk menjaga kepemilikan tanah setelah akses jalan dibuka dan sertifikat diterbitkan.
“Kalau jalan dan jembatan sudah kami bangun, serta sertifikat berikan, saya minta tolong jangan jual tanah. Tujuan kami membuka akses supaya masyarakat bisa bertani dan menjual hasil pertaniannya dengan lebih mudah,” imbaunya.
Pemkab Morowali Utara juga konsisten memberikan insentif sebesar Rp600.000 per bulan bagi para rohaniawan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka menjaga kesejahteraan spiritual masyarakat di daerah terpencil.
Apresiasi DPD RI dan Rangkaian Kegiatan Kebudayaan
Sementara itu, Anggota DPD RI Febriyanthi Hongkiriwang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelayan Tuhan yang setia memberitakan Injil di pedalaman.
“Selamat ulang tahun yang ke-100 untuk Injil masuk di Tana Wana. Semoga semangat ini tetap menyala-nyala untuk memperkuat persatuan dan kepedulian terhadap masa depan masyarakat,” tutur Febriyanthi.
Perayaan 100 Tahun Injil Tana Wana diisi dengan berbagai agenda budaya dan sosial, antara lain:
-
Peluncuran Dua Buku Sejarah: Benih Injil Tumbuh di Tana Wana (1926–2026) dan Duduk dalam Lindungan Yang Maha Tinggi.
-
Peletakan Batu Pertama: Pembangunan monumen peringatan 100 tahun.
-
Lomba Tradisional & Kebudayaan: Penilaian rumah adat suku Taa Wana, permainan gasing, engrang, meniup sumpit, dan Makatuntun (storytelling bahasa Taa Wana).
-
Bakti Sosial & Kebaktian: Pengobatan gratis, napak tilas, serta Ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpin oleh Pdt. Yandi Manobe, S.Th.
Sinergi Pemerintah dan Gereja
Acara puncak ini turut dihadiri oleh Anggota DPR RI Ellen Esther Pelealu, Direktur PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo, Ketua Umum Majelis Sinode GKST Pdt. Djadaramo Tasiabe, Dandim 1311/Morowali Letkok Inf. Boyke Baja Imanuel Sirait, serta jajaran pejabat daerah dan tokoh adat.
Melalui perayaan abad ini, pemerintah daerah dan gereja diharapkan terus memperkuat sinergi untuk mewujudkan masyarakat Tana Wana yang beriman, mandiri, dan sejahtera tanpa menghilangkan identitas adat serta budaya lokal. SAN

