METRO SULTENG – Kasus pemerkosaan yang menghebohkan terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Salah satu pelakunya diduga oknum anggota Brimob.
Korban pemerkosaan merupakan anak di bawah umur. Remaja 15 tahun itu juga menjadi korban perkosaan dari 10 orang pelaku lainnya.
Menanggapi kasus asusila di Kabupaten Parigi Moutong, anggota DPD RI Abdul Rachman Thaha mengutuk keras tindakan biadab tak bermoral tersebut. Apalagi salah satu pelakunya oknum aparat penegak hukum yang diduga berpangkat perwira.
Senator yang akrab disapa ART, meminta Kapolri dan Kapolda Sulteng segera menindak tegas oknum Brimob yang sudah merusak citra kepolisian di mata masyarakyat.
”Ini tidak bisa ditolerir lagi. Para pelaku harus ditindak tegas. Buka penyidikan secara transparan dan terbuka. Jangan pandang bulu, siapapun harus ditindak. Tidak ada yang boleh lepas dari jeratan hukum. Apalagi korbannya di bawah umur dan dilakukan aparat yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat,” desak Abdul Rachman Thaha, Sabtu (27/5/2023).
ART mengungkapkan, dari informasi yang ia diterima, oknum Brimob berinisial HST tersebut belum ditetapkan sebagai tersangka. Karena itu, ia meminta Kapolda Sulteng mengambil sikap dengan mengawasi proses penegakan hukumnya.
”Jangan karena dia anggota Brimob, lalu bisa seenaknya. Sebagai anggota DPD dari Dapil Sulawesi Tengah, saya akan memberi perhatian khusus kasus ini. Karena menyangkut masa depan seorang anak yang notabene generasi penerus kita. Di DPD kami adalah mitra Polri. Saya minta Kapolda Sulteng turun tangan,” kata senator berjuluk anak guru mengaji ini.
Tak lupa, ART juga meminta kepada pihak terkait agar memberikan pendampingan terhadap korban. Sebab, dari informasi yang ia terima, saat ini korban sedang mengalami trauma psikis.
”Informasi yang saya terima, korban mengalami luka di rahimnya. Dokter juga menyatakan kemungkinan alat reproduksinya. Trauma psikis yang dialami korban harus diperhatikan agar bisa pulih,” kata ART.
Anggota Komite 1 ini berharap, Kapolri harus menyelesaikan kasus ini dengan tuntas. Supaya dapat memberi rasa keadilan di masyarakat. Khususnya kepada korban dan keluarganya.
”Para pelaku harus bertanggung jawab dan mendapat hukuman setimpal. Supaya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian makin meningkat,” ujarnya.
Ia juga meminta aparat setempat melakukan penyelidikan yang mendalam terhadap kasus itu. Sebab, pemerkosaan dilakukan secara berulang dengan korban anak di bawah umur.
”Apakah pelaku menggunakan narkoba atau di bawah pengaruh alkohol atau miras, harus diungkap secara transparan. Informasinya bahwa pelaku mengiming -i mingi korban. Semua itu harus diungkap,” pinta senator Dapil Sulteng ini.
ART juga meminta pimpinan Polri untuk melakukan evaluasi pada pola rekrutmen, pembinaan, dan pengawasan di tubuh Polri. Sebab menurutnya, proses rekrutmen yang baik akan menghasilkan polisi yang baik dan kredibel.
“Bisa dari psikologis atau intelektualnya. Semua harus diperbaiki. Kita ingin Polisi yang memiliki kemampuan dalam mengungkap dan menangkap pelaku kejahatan. Polisi yang melindungi dan mengayomi, bukan sebaliknya,” katanya.
ART mengingatkan agar kasus ini harus tuntas. Beri rasa keadilan dan keamanan terhadap masyarakat. Ini pertaruhan Polri untuk memperbaiki diri.
“Saya berharap Kapolri memberi atensi dengan kasus ini,” tandas ART. ***
Editor : David Mogadi

