POSO – Calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah nomor urut 03, Sulaiman Agusto Hambuako menegaskan, praktik politik uang (money politic) dalam pemilihan kepala daerah merusak demokrasi.
“Rusak demokrasi kita bila suara dibeli dengan doi. Kita butuh pemimpin bukan hasil membeli suara rakyat,” tegas Sulaiman Agusto dalam kampanyenya di beberapa titik di Kabupaten Poso.
Menurut mantan Pangdam XII Tanjung Pura itu, kalau suara rakyat dibeli dengan uang maka setelah memimpin akan mudah melupakan rakyat.
Kata Agusto, misalnya dengan uang Rp500 ribu, itu kalau dibagi 60 bulan (5 tahun) maka hanya Rp8.500 per bulan. Jadi, pemilih hanya dihargai Rp8.500 per bulan saja, setelah itu tidak bisa apa-apa lagi.
Sulaiman mengajak warga beramai-ramai ke TPS untuk mencoblos pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 03, Rusdy Mastura-Sulaiman Agusto.
“Kemudian sesuai dengan tempatnya, kartunya ambil. Lihat, buka. Ada tiga pasangan calon gubernur. Yang satu bajunya putih, ndak usah tengok, ndak usah diliat. Yang kedua bajunya putih, ndak usah diliat,” kata Sulaiman Agusto.
Kebetulan kita bajunya merah. ‘Cucuk’ itu yang baju merah. Tusuk. Kalo masih belum inga, liat jo no itu yang bakumis, itu jo bage (tusuk), kapan lagi motusuk jenderal pe kumis.
Pemilihan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah diikuti tiga pasangan, urut 01 Ahmad Ali-Abdul Karim Aljufri, urut 02 Anwar Hafid-Reny Lamadjido dan urut 03 H Rusdy Mastura-Sulaiman Agusto Hambuako.(*)

